Thursday, April 30, 2015

MUSEUM DI INDONESIA TIDAK KALAH MENGAGUMKAN

Diantara kekayaan Negara Indonesia yang lainnya seperti kekayaan alam dengan pesona yang indah sebagai penarik wisatawan manca, kekayaan sejarah pun tidak kalah tandingannya, terbukti banyak para wisatawan mancanegara yang ber bahasa inggris berbondong-bondong menguak sejarah di indonesia Seperti berikut yang akan kami ulas yaitu Museum bersejarah di Indonesia

Museum Wayang (Wayang Museum [1640])
Museum Wayang di Indonesia
Museum yang terletak di Jakarta tepatnya di Jl. Pintu besar utara selain memiliki nilai sejarah museum ini juga memiliki bangunan gedung yang unik dan menarik, setelah mengalami beberapa kali renovasi. Gedung ini pada awalnya bernama De Oude Hollandsche Kerk (Gereja Lama Belanda) dan pertamakali dibangun pada tahun 1640, hingga di tahun 1732 sedikit diperbaiki dan berganti nama De Nieuwe Hollandse Kerk (Gereja Baru Belanda). DI tahun 1808 gedung ini rusak akibat bencana alam gempa bumi, hingga kemudian diatas bekas bangunan tersebut kemudian dibangun gedung museum wayang yang diresmikan pada 13 Agustus 1975.

Museum Bahari ( Bahari Museum [1652-1771])
Museum Bahari di Jakarta
Bukan rahasia lagi kalau nenek moyang kita adalah seorang pelaut, sperti yang terlantun pada sebuah lagu. Museum Bahari, museum yang menyimpan semua koleksi sejarah yang berhubungan dengan kebaharian dan kenelayanan bangsa. Di museum ini terdapat benda-benda koleksi yang terdiri atas berbagai jenis perahu tradisional dengan bentuk dan gaya yang baeraneka ragam, hingga kapal zaman sejarah. Di museum ini juga terdapat berbagai model dan miniatur kapal modern dan perlengkapan penunjang kegiatan pelayaran.

Museum Fatahilah ( Fatahilah Museum [1707-1710])
Museum Fatahilah Kota tua
Museum yang dikenal sebagai Museum Sejarah Jakarta, atau bisa di sebut Museum Batavia adalah sebuah museum yang terletak di Jalan Taman Fatahillah No. 2, atau yang lebih akrab disebut Kota Tua. Kenapa museum ini terkenal dengan Museum Fatahillah. Ada dua, karena letaknya di Jalan Taman Fatahillah, dan yang kedua untuk mengenang pahlawan Fatahillah yang memberi nama Sunda Kelapa menjadi Jayakarta atau saat ini adalah Jakarta pada tanggal 22 juni 1527 yang sekarang jadi ulang tahun kota Jakarta.

Museum Benteng Vredeburg (1760)
Museum Benteng Vredeburg Jogja
Museum Benteng Jogjakarta, semula bernama "Benteng Rustenburg" yang mempunyai arti "Benteng Peristirahatan" , dibangun oleh Belanda pada tahun 1760 di atas tanah Keraton. Berkat izin Sri Sultan Hamengku Buwono I, sekitar tahun 1765 - 1788 bangunan disempurnakan dan selanjutnya diganti namanya menjadi "Benteng Vredeburg" yang mempunyai arti "Benteng Perdamaian". Pada tanggal 16 April 1985 dipugar menjadi Museum Perjuangan dan dibuka untuk umum pada tahun 1987. Kemudian pada tanggal 23 November 1992 resmi menjadi "Museum Khusus Perjuangan Nasional" dengan nama "Museum Benteng Yogyakarta".

Museum Nasional Republik Indonesia ( National museum of Republic Indonesia [1778] )
Museum Nasional atau Gedung gajah di Indonesia
Museum Nasional Republik Indonesia atau museum yang akrab disebut Museum Gajah, dikarenakan keberadaan patung gajah yang menghiasi bagian depan gedung museum. Patung gajah ini ternyata bukanlah patung gajah biasa, patung gajah berbahan perunggu ini merupakan hadiah yang diberikan oleh Raja Chulalongkorn dari Thailand (dulu bernama Siam) pada tahun 1871 saat berkunjung ke Batavia. Dalam museum ini terdapat dua gedung yaitu gedung lama (Unit A) dan gedung baru (Unit B). Di Unit A (Gedung lama) terdapat banyak sekali koleksi patung atau arca yang sebagian besar peninggalan dari masa Kerajaan Majapahit, Dan dibagian belakang gedung ini juga terdapat Taman Prasejarah.

Tidak banyak waktu untuk memaparkan satu persatu peninggalan sejarah yang diringkas dan disimpan dalam museum. Selain museum-museum diatas masih banyak lagi museum yang lain yang menjadi bagian dari Indonesia yaitu : Museum Taman Prasasti (1795) dengan koleksi prasasti nisan kuno serta miniatur makam khas dari 27 propinsi di Indonesia, Museum Bank Indonesia (1828), Museum Seni Rupa dan Keramik (1870), Museum Radya Pustaka (1890) dan Museum Mulawarman (1971).